Kamis, 28 Maret 2013

Nyata dari Referensi Imajinatif

      Tulisan saya kali ini akan menjabarkan sebuah teori baru tentang analisis wacana. Hal yang akan saya bahas adalah topik wacana percakapan, yang saya khususkan pada pembagian topik nyata. Tulisan ini didorong oleh kegelisahan saya yang tak terjawab akan perbedaan topik nyata dengan topik imajinasi.

  • Topik Nyata

      Menurut Rani dkk, topik nyata merupakan topik yang referensinya seperti yang dirujuk dengan kata-kata yang digunakan dalam ujaran. berdasarkan referensinya topik nyata dibagi menjadi:

  1. Topik yang Referensinya Ditunjuk
  2. Topik yang Referensinya Dipegang
  3. Topik yang Referensinya Dilihat, tetapi Tidak Ditunjuk dan Tidak Dipegang
  4. Topik yang Referensinya Didengar, dan
  5. Topik yang Referensinya Berupa Kegiatan atau Tindakan
  • Topik Imajinasi
      Menurut Rani dkk, topik imajinasi merupakan topik pembicaraan sebagai hasil pengolahan atau rekaan sehingga seolah-olah menjadi benar-benar ada.

      Dari penjelasan yang saya dapat dari buku Analisis Wacana karya Rani, Abdul. dkk. ada pertanyaan yang tiba-tiba muncul. Di jaman ini semakin banya kita temui hal-hal rekaan yang seolah-olah menjadi nyata keberadaannya. Apakah hal tersebut termasuk topik imajinasi? Tetapi sering ditemukan pembicaraan antara beberapa orang yang terkesan ilmiah, namun yang dibahas adalah sebuah imajinasi/rekaan belaka. Bukti serta gambar-gambar yang dihadirkan merupakan imajinasi tulen. Dalam keadaan seperti itu pasti susah menentukan tergolong topik apa wacana yang terjadi.
      Masalah tersebut tentu tidak mudah dipecahkan jika hanya melihat penjelasan mengenai topik nyata dan topik imajinasi dalam buku karya Rani dkk. tersebut. Digolongkan topik imajinasi tetapi dalam wacana yang terjadi banyak referensi yang dihadirkan. Digolongkan topik nyata tetapi hal yang dibicarakan adalah hasil rekaan manusia. Dari pertanyaan tersebut saya oleh dipaksa menerima penjelasa oleh dosen pembimbing saya yang juga menjadi pengarang buku tersebut untuk menggolongkan wacana tersebut kedalam topik nyata. Tentunya sebagai seorang yang berpikir kritis saya tidak mudah menerima paksaan itu tanpa syarat. Dari kejadian tersebut dan hasil perenungan saya membuat sebuah teori baru untuk memenuhi syarat agar bisa diterima.

  • Topik Nyata
      Topik nyata adalah topik wacana yang menghadirkan referensi riil pada waktu wacana berlangsung, topik nyata dibagi menjadi dua berdasarkan jenis referensinya kedalam topik nyata dengan referensi nyata dan topik nyata dengan referensi imajinatif. Dari dua jenis referensi tersebut masih dibagi lagi dalam:
     A. Topik Nyata dengan Referensi Nyata

  1. Topik dengan Referensi Nyata yang Ditunjuk
  2. Topik dengan Referensi Nyata yang Dipegang
  3. Topik dengan Referensi Nyata yang Dilihat, tetapi Tidak Ditunjuk dan Tidak Dipegang
  4. Topik dengan Referensi Nyata yang Didengar, dan
  5. Topik dengan Referensi Nyata yang Berupa Kegiatan atau Tindakan
     B. Topik Nyata dengan Referensi Imajinatif

  1. Topik dengan Referensi Imajinatif yang Ditunjuk
  2. Topik dengan Referensi Imajinatif yang Dipegang
  3. Topik dengan Referensi Imajinatif yang Dilihat, tetapi Tidak Ditunjuk dan Tidak Dipegang
  4. Topik dengan Referensi Imajinatif yang Didengar, dan
  5. Topik dengan Referensi Imajinatif yang Berupa Kegiatan atau Tindakan


  • Topik Imajinasi
      Topik imajinasi adalah topik pembicaraan yang dilakukan dengan meniru kegiatan sehari-hari tanpa menghadirkan barang yang sebenarnya pada saat melakukan pembicaraan.


Sumber:
Rani, Abdul. dkk. 2013. Analisis Wacana: Tinjauan Deskriptif. Malang: Surya Pena Gemilang     

   

Kamis, 14 Maret 2013

format word

Buat kalian yang ingin mendapatkan draft menulis buku teks dalam format word silahkan unduh di sini. Kalian juga bisa mengkreasikan draft buku teks kalian sendiri. Tidak ada paksaan atau pembatasan kreativitas dalam menulis buku teks kalian sendiri. Selamat menulis

Senin, 11 Maret 2013

Nikotin Rokok dan Kemungkinan Sembuh dari Gila

Gila adalah kondisi dimana seseorang tidak dapat mengontrol dirinya sendiri. Orang dengan kondisi seperti ini tidak mungkin mengingat hal apapun yang berkaitan dengan dirinya, orang-orang di sekitarnya, masa lalu, dan kebiasaannya sebagai manusia normal. Sudah banyak orang gila yang dirumahsakitkan oleh keluarganya dengan keinginan sembuh dan dapat berinteraksi lagi dengan lingkungannya. Tidak jarang pilihan untuk merumahsakitkan orang gila ini hanya akan menguras uang keluarganya, dan tidak jarang juga yang kemudian putus asa lalu meninggalkan keluarganya yang gila hingga berkeliaran di masyarakat dan menimbulkan teror sosial. Tentu bukan salah mereka meninggalkan juga bukan salah Tuhan. kembali pada permasalahan orang gila. Pada dasarnya orang gila tidak mungkin ingat hal atau kebiasaan yang pernah dilakukannya sebelum gila. Namun berdasarkan pengamatan saya pada setiap orang gila yang terlantar di jalanan, ada satu hal yang diluar kodrat manusianya yang tidak bisa dilupakan. Hal itu adalah rokok, entah seberapa hebatnya nikotin meracuni otak penikmatnya hingga orang gilapun tak bisa meninggalkannya. Jika logika kita dapat bekerja secara baik mungkin tidak ada gunanya kita menyembuhkan orang gila, dan tidak mungkin racun nikotin dapat menyembuhkannya. Coba logika kita ikut menjadi gila untuk menjawab semua kegilaan ini. Orang gila masih lebih waras dari orang yang katanya waras, jadi itu alasan kenapa kita wajib menyembuhkan orang gila. Nikotin dalam rokok yang pernah dihisap orang sebelum gila, masih menuntut otak orang gila untuk memasok nikotin di masa gilanya. Kedua alasan gila ini yang mendasari teori saya yang juga gila untuk memadukan nikotin dengan kesembuhan orang gila. Barangkali bisa membuka mata dunia tentang siapa yang gila dan bagaimana sebenarnya nikotin itu. Jika nikotin yang bukan merupakan kodrat manusia saja masih bisa diingat oleh orang yang sudah gila, berarti kodrat sebenarnya dirinya sebagai manusia lebih bisa disadarkan kembali. Berdasarkan teori gila saya, orang gila seperti itu dapat diterapi dengan menggunakan rokok. Ketika terapi sedang berjalan, dibantu dengan menghadirkan kembali ingatan-ingatan sebelum dia gila. Bisa berawal dari pertanyaan siapa anda sebenarnya? Pertanyaan-pertanyaan berikutnya mungkin lebih diketahui oleh psikiatris. Begitu juga kandungan zat yang berada pada rokok juga lebih diketahui oleh ahli kimia. Tapi kedua ahli tersebut tidak lebih gila dari logika yang saya punya dengan memadukan nikotin untuk menyelamatkan orang gila yang sebenarnya paling waras diantara manusia serta dari pandangan Tuhan. Tulisan ini hanya sebagai mimpi, tapi juga rangsangan dan kenyataan jika ada sekelompok orang yang berlogika gila yang dapat merealisasikannya.