Hujatan pada hujan, tiap mendung bergumul dengan langit makhluk bumi bernama manusia selalu maki keluar tanpa saringan. Apa salah hujan yang hanya laksanakan ibadah dengan caranya? Tidakkah manusia bertanya kepada ibadahnya sendiri? Hujatan hanya bagi manusia yang beribadah pada dirinya sendiri. Hujan hanya jatuh saat pergumulannya capai puncak dan awan mendapat perintah untuk bertaubat atas perbuatannya. Jika perintah tak pernah datang siapa pula yang mau berhenti dari pergumulan. Kenapa kita tidak juga sadar? Apa yang kita hujat dari hujan yang tak kuasa menolak perintah. Pantaskah kita? Tanyakan pada hati-hati yang terhujani. Hujat makhluk yang lebih suci dari kita, makhluk yang lebih taat dari kita. Hujan-hujan tak bias memilih, mereka hanya berniat tunaikan kewajiban senangkan kehidupan dibawah. Hujatan yang keluar dari mulut-mulut pemikir yang tak pernah gunakan otaknya untuk berpikir, sakiti perasaan hati hujan. Saat hujan tak lagi turun akibat sungkannya menerima hujatan dari makhluk yang katanya berakal tapi kok bodoh. Hujan kembali tersudut pada jurang hujatan orang-orang yang katanya pintar. Kembali hujan menagis, tangisan kali ini lebih dahsyat dari tangis biasa karena taubat ditengah pergumulan awan dengan langit. Tangisan kali ini hadirkan pihak ketiga dalam amuk air. Halilintar dan angin yang kerap enggan campuri urusan tebus dosa hujan turut campur kali ini. Entah campur kepentingan atau campur karena perasaan yang terdorong oleh seringnya hujatan pada hujan yang sebenarnya adik termuda dari kedua nama itu. Dalam amuk bersama banyak dari mereka yang berbuat dosa, benarkah dosa? Karena amuk mereka telah membungkam mulut penghujat yang kerap terdengar. Mereka mengamuk hingga para penghujat tak lagi dapat membuka mulut untuk menghujat kembali. Mereka tuntun para penghujat temui pengadilan mahakuasa untuk tunjukkan bodoh mereka yang bersembunyi dibalik otak. Dalam perjalanan hujatan semua diputar kembali dalam layar yang cukup jernih dengan suara yang jernih dan keras pula. Menangis meminta, manusia-manusia pnghujat minta kembali untuk keluarga. Mereka sesali tiada guna perbuatan melanggar yang kejam atas hukjatan tiada piker pada kuasa yang bersembunyi dibalik hujan. Sejak tidak kembalinya penghujat hujan dalam hangat keluarga, karib para penghujat coba belajar hargai hujan beserta dua kakaknya. Hujan berada diatas dibawah penguasa yang mereka hormati. Tiap huaj turun karena ibadah manusia mulai beribadah dengan bersyukur karena satu lagi makhluk yang melaksanakan perintah penguasa dengan baik. Tidak ada lagi perbedaan pandan g antara hujan yang terhujat dengan manusia, karena mereka makhluk yang berbeda dan mereka makhluk yang patuh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar