putusan terhadap jalan hidup yang dipilih bukan sebagai akhir tujuan, hanya persinggahan mencari jati diri
Selasa, 26 Februari 2013
menulis buku teks
menulis buku teks adalah salah satu mata kuliah yang sedang saya tempuh pada semester empat di jurusan sastra Indonesia, fakultas sastra, universitas negeri malang. sebagai kewajiban mahasiswa, mata kuliah ini menuntut saya dan teman-teman untuk menelurkan buku teks dengan mengacu pada kurikulum terbaru. karena tuntutan itu dan kurangnya waktu untuk mengkreasikan wajah baru buku yang akan saya tetaskan, saya mendaur ulang wajah buku yang pernah saya buat pada mata kuliah telaah dan pengembangan kurikulum bahasa, sastra Indonesia. cukup terkejut keputusanku mendaur ulang wajah buku itu bisa diterima di kelas yang saya ikuti. ingin tahu bagaimana bakal calom wajah buku yang akan saya tetaskan, dan mengapa bisa bakal calon buku saya bisa diterima di kelas? silahkan unduh di sini gratis.
Senin, 25 Februari 2013
matinya toekang kritik
Terdengar detak
nafas waktu…
Sebelum pertunjukan
– sebelum dunia diciptakan – denyut waktu itu mengambang memenuhi ruang –
semesta yang hampa. Seperti denyut jantung. Terdengar detak-detik waktu bergerak.
Seperti merembes dari balik dinding. Seperti muncul dan mengalir menyebar di
antara kursi-kursi yang (masih) kosong…
Ketika para penonton mulai masuk ruang
pertunjukan, mereka mendengar waktu yang terus berdedak berdenyut itu. Mereka
mendengar suara detik jam yang terus berputar. Suara detak-detik waktu yang
bagai mengepungnya dari mana-mana. Sementara pada satu bagian panggung, mereka
menyaksikan kursi goyang yang terus bergerak pelan seakan mengingatkan pada
ayunan bandul jam. Bergoyang-goyang. Kursi itu temaram dalam cahaya. Terlihat
selimut menutupi kursi itu, seperti ada orang yang tertidur abadi di atas kursi
itu. Waktu berdenyut. Kursi terus bergoyangan.pertunjukan? sebelum dunia diciptakan? apa maksudnya? ingin tahu lebih? download di sini
mangir
Siapa belum pernah dengar Cerita lama tentang Perdikan
Mangir Sebelah barat daya Mataram?
Dengar, dengar, dengar: aku punya cerita.
Tersebut Ki Ageng Mangir Tua, Tua Perdikan Wibawa ada
dalam dadanya Bijaksana ada pada lidahnya Rakyat Mangir hanya tahu bersuka dan bekerja
siapa dan bagaimana kehidupan Ki Ageng Mangir sebenarnya? download di sini
orang-orang bingung
kotak-kotak dari berbagai
arah menuju arena permainan… berisik… sepi
SATU
Hey, Jam berapa sekarang?
DUA
Saya kurang tahu.
SATU
Hey, Jam berapa sekarang?
TIGA
Ada apa sih dengan waktu. Lho, ada dimana kita? Dimana kita?
EMPAT
Entahlah.
Persetan dengan waktu, persetan dengan tempat. Persetan semuanya!
NOL
Sudah, sudah.
Jangan berisik. Nanti rencana kita gagal
LIMA
Rencana apa Bung?
ingin tahu apa yang mereka rencanakan? di mana dan kapan mereka berada? download di sini
maksud tersembunyi kata yang terkandung dalam puisi GAJAH DAN SEMUT karya SUTARDJI CALZOUM BACHRI
GAJAH
DAN SEMUT
tujuh gajah
cemas
meniti jembut
serambut
tujuh semut
turun gunung
terkekeh
kekeh
perjalanan
kalbu
1976-1979
Puisi Sutardji yang berjudul GAJAH DAN SEMUT di atas tidak sembarang memilih, menyusun, dan memadukan kata. Terlihat dari pemberian judul, pemunculan kata yang sering dianggap tabu karena berhubungan dengan organ intim , dan penutup yang berhubungan dengan hati. Apa sebenarnya maksud yang disembunyikan oleh Sutardji dalam puisi ini? dan mengapa juga pilihan kata yang digunakan begitu kontras? apa Sutardji hanya ingin mempermainkan penikmat puisi atau menitipkan sesuatu? dan pertanyaan-pertanyaan lain yang sering tak ingin dimunculkan oleh pikiran-pikiran kolot. Jawaban dari semua pertanyaan-pertanyaan yang coba saya munculkan hanya dapat dijawab jika kita membebaskan pikiran dari segala macam hal negatif dan memandang luas jernihnya semua kata yang dianggap tabu.
Ulasan ini saya mulai dengan merefleksi ingatan kalian pada peribahasa gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan nampak. Peribahasa itu menggambarkan orang-orang yang selalu melihat kesalahan orang lain sebagai masalah yang besar dan jarang mempertibangkan kesalahannya sendiri yang lebih besar dari milik orang lain yang dianggapnya salah. Setelah ingatan kalian tersentuh peribahasa tersebut mungkin sedikit menjawab pertanyaan kenapa puisi ini berjudul GAJAH DAN SEMUT. Jika pikiran kalian sudah benar-benar bersih kalian tentunya sudah dapat mengira-ngira maksud yang disembunyikan oleh Sutardji dalam puisi ini. Saya akan pandu lagi pikiran kalian, tentunya orang yang memiliki kesalahan sebesar gajah dan orang yang disalahkan yang pada kenyataannya hanya sebesar semut tidak akan hidup selamanya di dunia. Orang-orang yang hidup dengan gajahnya dan semutnya pasti sudah dan akan mati. Untuk Orang yang sudah mati, dari kepercayaan salah satu agama di Indonesia orang mati akan melewati jembatan yang besarnya seperti rambut dibelah tujuh untuk menentukan kemana dia akan menetap. Surga di atas, atau neraka di bawah.Ternyata orang yang hidup dengan semutnya telah berhasil melewati jembatan rambut dan sekarang bersenang-senang di surga. Namun jauh berbeda dengan orang yang hidup dengan gajahnya di dunia, dia masih was-was meniti jembatan yang besarnya hanya seukuran rambut yang dibelah tujuh. Dari panduan saya apa kalian sudah dapat menerka maksud dari puisi ini? pastinya sudah. Sekarang kita koreksi pikiran kita, kenapa gajah dan semutnya berjumlah tujuh? tujuh adalah angka yang sering muncul di dunia dan di akhirat. Kenapa harus gajah dan semut? kedua hewan tersebut hanya sebagai simbol dari orang yang memiliki kesalahan sebesar gajah dan semut. Ternyata puisi ini sangat besar nilai spiritualnya, tapi kenapa harus dikotori kata jembut? jangan salah dulu, saya sudah mewanti-wanti untuk menetralkan pikiran kalian, jembut merupakan akronim dari jembatan serambut yang dipilih agar bisa padu jika disandingkan dengan rambut. Sutardji tidak sepenuhnya membingungkan pembaca puisi ini, jika pikiran sudah netral dan jernih tentu kalian dapat memahami puisi ini hanya dengan membaca bagian akhir yang bertuliskan perjalanan kalbu. Sebagai pembelajaran dan pesan, jangan sekali-kali memandang sesuatu yang buruk dari wujud aslinya. Pandang suatu keburukan dari sisi lain, barangkali keburukan itu merupakan kebaikan yang sebenar-benarnya. Pesan dari saya, keburukan suatu kata tidak terkandung dalam kata itu sendiri, keburukan suatu kata adalah hasil dari pemberian muatan yang dilakukan oleh pikiran kita. Semoga tulisan ini bermanfaat
Sabtu, 23 Februari 2013
sebelas19
17ke41111
Kata kata sunyi
mengalun
Berantai keluar deras
tak bermakna
Kosongpun tak bermakna
Hanya angin bernada
sumbang
Yang menghela dari
mulut
Kotori telinga yang
tak mendengar
Sungguh biasa terbiasa
kudapati
Nada nada tak berarti
ada
Terus meluncur tak terbendung
Dalam seharinya tak
penat
Bincangkan suatu tak
bermanfaat
Ingin kupotong syaraf
dengarku
Penat lalu diterjang
koar
Ah cepat kau akhiri
dunia ini
Sebelum ku bertindak
bodoh
sebelas18
17ke31111
Hitung menghitung
hitungan buntung
Buka suatu lama
terbuang
Hitung manusia sesal
tak tau
Suatu lalu termakan
berlalu
Sisa piker hitung tak
tentu
Mengapa tidaklah
biarkan berlalu
Suatu terbuang tak
akan kembali
Buat sengsara hitungan
buntung
Sesali hitungan jadi
beban
Dalam hari hitungan
lalu
Telah bodoh penghitung
Hitung yang telah
tiada
Dilahap sendiri dengan
buasnya
Setelah usai baru
hitung perlebih
Sebenarnya serakah
penghitung nan kikir
Pertimbangkan suatu
habis nimati sendiri
sebelas17
17ke21111
Angin mengalun
perlahan
Isi telinga dengar
berita derita
Tentang beragam warna
jiwa
Timbul tenggelam dalam
perkara
Dari seikmat manisan
Hingga manisan
pembunuh
Terangkut bersama
angin
Kisah misteri tak
tuntas
Hilang sekejap
kemudian mencuat
Bawa debu menapak mata
Timbul kenangan berita
berdarah
Akan kuasa batasi asa
Angin terus mengalir
Tanpa acuh tanda tegar
Lihat dan angkut
berita duka
Tanpa bekas Nampak
diingat
sebelas16
171111
Lucu jadi idola
Benar badut isi dunia
Pandangi kelucuan buat
menggila
Idola idola permalukan
diri
Jadikan badut jadi
idola
Lucu lucu pandangi
badut
Jadi panutan pecinta
badut
Sungguh seru konyol
idola
Jadi badut banyak
penyuka
Badut badut idola
poligami
Berkawin banyak
pekerjaan
Tapi badut jadi idola
Hanya buat gila
memandang
Dapat uang kemewahan
fana
Tak perlu sibuk dengan
bakat
Hanya buat orang
menggila
Badut tertawa dalam
bangga
Tipu diri dan semua
sebelas15
16ke31111
Dekat kurasa rasamu
Teduh melangkah hariku
Satu kuyakin diriku
Lalui malamku dengan
nama
Segala nama ala mini
Beri lentera jalan
tidurku
Bangunku jelang
mentari
Teduhiku denganmu
Mantapku langkah
songsongkan
Suatu satumu
Tak kuharap jauhi diri
Hengkang dari baikmu
Yang pengertianmu
akanku
Yang pengorbananmu
akanku
Yang bekaskan suatu
dalamku
Aku rindu tuk tak
melepasmu
Atas segala suatu
lebihmu
sebelas14
16ke21111
Batang cabang ranting
Hidup berbeda dalam
hidupnya
Dengan ragam hidup
serumah
Ingin kujiplak cara
hidup damai
Tiga perbedaan dalam
serumah
Dengan keadilan
seadilnya
Tercukupi semua
butuhnya
Tanpa pertikaian
menghancurkan
Hidup bersama bertiga
serumah
Bertiga tanpa gejolak
Hanya damai sehidupnya
Damai bagi yang
mendengar
Damai dalam dunia
Tebarkan kebaikan
hidup bertiga
Dalam ikatan kuat
damai
sebelas13
161111
Dara dimana kurasa
Sedderhana terpandang
asmara
Tanpa muslihat karya
dunia
Sekali lagi berteman
asmara
Tiada salah kurasa
Bayangkan rasa dalam
ara
Duh rasa terasa
Sesak segar dalam dada
Duh asmara remaja
Buai terasa merasa
beda
Sekali ikrar berada
Dalam angan tuju nyata
Masa lama kurindu
asmara
Sampailah kugenggam
asrama
sebelas12
13ke41111
Lembu lembu peranakan
Mata sipit kulit cerah
Naik turun tangga
berjalan
Cari makan padang
beton
Keliling empat penjuru
mata angin
Tanpa tujuan tanpa
pegangan
Sepasang dua
berdampingan
Tapi mata jantan tetap
berkelana
Liar telanjangi kerbau
lawan
Kerbau kerbau beranak
Anak anak peranakan
Turuti induk peranakan
Jalan jelajahi tanpa
panduan
Kian beranak peranakan
Kian membaur lokal
kerbau
Hingga tersisa nama
peranakan
Kerbau peranakan dalam
ladang beton
sebelas11
13ke31111
Aku takut takutku
Kehilanganmu aku lemah
Suatumu belum kudapat
Semua karna takutku
Takutku akan orang
Dekatimu begitu intim
Buat lupamu akanku
Nengnengneng
Penjajah kehangatan
sela datang
Temani takutku akanmu
Takut begitu dalam
menakutkan
Rongrong berani lakiku
Nengnengneng
Semakin jauh kurasa
Kehangatan sejenak
lalu temaniku
Nengnengneng
Makin sayup tak
terdengar
Makin gelap rasaku
Takutku takutmu
Makin jelas tergambar
Makin jauh dariku
Makin takutku takutmu
Nengnengneng
Kembalilah kehangatan
Sejenak lupakan
ingatku
Ingat takutku takutmu
Aku tenggelam dalam
penantian malam
sebelas10
13ke21111
Kugelar rasa liar
Temani imaji petualang
Cari suatu kisah segar
Warnai hari yang lalu
hilang
Penantianku pandang
sudut kamar
Tunggu celah menangi
ajang
Lompat bersiap lewati
pagar
Dalam kelana jiwa
lajang
Temui wajah terlihat
gahar
Tiada beda dengan binatang
Aku menanti nanti tuk
koar
Diam menanti terlampau
panjang
Hingga lumut sabar
menjamur
Nantikan sesungguh
sungguhnya perang
Dengan sisi lain diri
yang tergambar
Tarung hati tak
berparang
Hingga dapati pemenang
keluar
sebelas9
131111
Pagiku kelamku
Sendiri usir dingin
Singkap mega
kelabudari pikiran manusiaku
Yang tak pernah
tersapa hati
Bukan hati malu atau
enggan
Tapi kabut pikirku
terlalu tebal
Pikirkan kegilaan liar
Akan seseorang dan
sesuatu
Terlalu berharga tuk
dibunuh
Kerap bingungku
tentukan
Turuti naluri kelakian
Atau suara gumam hati
Adakah seseorang mampu
bantuku
Pastinya bodohku
bertanya
Kita terlalu sibuk
dengan kita sendiri
sebelas8
121111
Jin jin beton tegak
berdiri
Lindungi manusia dan
harta berbalas mahal
Dengan tumbal yang tak
tanggung
Kebebasan hewan
terampas
Jalannya akar terbatas
Susah memang putuskan
putusan
Pilih sekarang atau
kelak
Lama berpikir manusia
Jin jin semakin kokoh berdiri
Benamkan kaki semakin
dalam
Tegakkan kepala
semakin tinggi
Besarkan perut semakin
lebar
Semakin jin tumbuh
liar
Semakin liar kehidupan
kelak
Semakin kita
dipermainkannya
Dalam janji remang
selamanya
Tanpa titik terang
kedepan
sebelas7
10ke21111
Berdiri tegak runcing
menanti
Saat lengah tuk bicara
Tentang perasaan
tertindas
Pelecehan atas ujung
tumpul
Korban demipelampiasan
Perasaan liar manusia
Yang terhambat kelu
ucap
Pasrah kau serahkan
ujungmu
Tuk semakin hilang
Termakan liar rasa
terhambat
Semakin pendek ujung
runcing
Semakin hilang
keinginan ungkapkan
Resah rasa tertindasmu
Semakin liar piker
manusiamu
Dapatimu tak lagi
puaskan hasratnya
Kau hilang dalam
runcingmu
Terlupakan atas
tumpulmu
Tinggal sisa pikiran
manusiamu yang lupa
Akan tumpulmu jadi
runcing
Hingga mati dalam
runcing yang menanti
sebelas6
101111
Sepasang gereja
bercumbu mesra
Hangatkan tubuh
setelah hujan
Atas atap sebuah
sekolah
Tanpa malu tuangkan
hasrat
Sepasang gereja mulai
menjauh
Saat mentari memecah
awan
Tinggalkan kenangan
manis
Sesaat lalu bercumbu
habis
Sepasang gereja
terbang menghilang
Bermain dibawah
siraman mentari
Bersama kenangan
melambungkan harapan
Hari lain setelah
pecah mendung
sebelas5
08ke31111
Malam ini, kuingat
semuamu
Semua kenangan akanmu
Kenangan yang
takpernah ada
Kenangan yang
takpernah terjadi
Kenangan indah yang
tak inda
Kenangan yang samar
Kenengan yang kabur
Kenangan yang semu
Kenangan yang mendadak
Kenangan yang hadir
tanpa kenangan
Hanya mala mini
malammu
Malam munculkan
kenanganmu
Kenangan yang tak
pernah kita kenang
Dalam kenangan masing
kita
sebelas4
08ke21111
Dua ruas bertemu
Sapu bersih ruang
melihat
Beri pandangan segar
kedepan
Perjelas halauan
kemudi
Selamatkan nyawa
titipan
Dengan nyali tak
sembrono
Dua ruas seolah
pahlawan
Padahal bukan sempurna
Membersihkan hanya
sebagian
Tidak untuk sudut
tersembunyi
Benar lemah sebenarnya
kita
Anggap pahlawan yang
tak sempurna
sebelas3
081111
Tangisan biru serasa
berat
Lepasku angkat kaki
Dari tanah ari desaku
Namun waktu harus
melahap
Rasa rindu terhadap
ego
Tuk satu tujuan
sementara
Tunaikan kewajiban
fana
Saat sendiriku
Diatas penantian fana
bundar tumpuan
Kubulatkan harap
sebulat tumpuan
Tapi lelah kian
membayang saat tumpuan tak kunjung jalan
Lewat pesan ini coba
beberkan
Resah yang meraung
Demi pergulatan dunia
sebelas2
051111
Tangis wanita senja
kelam
Memecah kebisingan bis
malam
Penuh sesak wajah
muram
Dengan beban perasaan
silam
Teriris telingan
mendengar miris
Sedu rintihan wajah
manis
Deras air memancar
matanya
Membelah pipi sisakan
bekas
sebelas1
02ke21111
Atap mencucurkan air
mata
Para dewi sedang
merana
Ditinggal kebijakan
hati manusia
Demi sesuap sambung
nyawa
Korbankan kesucian
dari raga
Hidupi diri selimuti
dosa
Dengan tempik demi
keluarga
Tak ada yang bisa
salahkan mereka
Bagai kutu salah ulah
kita
Siakan mereka anggap
tak ada
Benamkan mereka dari
hidup dunia
Kita sama dengan nista
Siakan nasib saudara
Sejenak kita berkaca
Pada kerling air mata
Sadari mereka kita
percaya
Sembuhkan luka kian
menganga
Dari hati dewi kian
sengsara
sebelas
021111
Kau Nampak menawan
dengan pinggang ramping
Pinggulmu sedikit
berisi dan hangat
Warna kecoklatanmu
eksotis
Buat kemelut dihati
dan pikiran
Bibirmu seksi terbuka
Ingin kucumbu di pagi
ini
Kecewa kudapat saat
bibir kita merapat
Dingin terasa tak
sedikitpun obati gejolakku
Jauh berbeda apa
terlintas dibenakku
Tentangmu, tentang
percumbuan hangat
Percumbuan segelas
penuh sereal pagi
Tuk awali hidupku
menantang dunia
Jumat, 22 Februari 2013
sepuluh9
30ke21011
Beban hidup kian
mencekik
Akibat permainan
petinggi politik
Lading hidup alami
paceklik
Dihisap burung suruhan
gelatik
Ide sinting pemimpin
picik
Buai angan orang
terbuang cilik
Peras tulang coba
membalik
Hidup keras agar
membaik
Kerja kuda hanya menggelitik
Buat geli petinggi
berbatik
Dengan sebagian rambut
membotak
Hanya berkutat dalam
kotak
Timbul redup warna
membulak
Jadikan roda hidup tak
bergerak
sepuluh8
311011
Gelegak tawa para dewa
Saksikan kebodohan
manusia
Berkubang dalam
belenggu harta
Yang tak tentu asal
bermula
Makin gila mereka
terlena
Makin bringas dengan
sesame
Hilang nurani putih
jiwa
Tiada beda hewan
berupa
Jadi murung bumi
dihina
Kelakuan pribadi-pribadi
berhala
Dengan segala tingkah
polahnya
Lupa kodrat jadikan
alfa
Hitam rupa hari berada
Setiap berhala temui
mangsa
sepuluh7
30ke21011
Malam memeluk bumi
Bunga-bunga tidur
menari
Suara teriak kian
sunyi
Lelah kurasa kedua
kaki
Tak kuat mata
memandang lagi
Terakhir ku kirim
pesan ini
Tidurlah untuk berdiri
sepuluh6
301011
Malam gelap ku
menggeliat
Dingin angin ku
berselimut
Wanita susah ku
terpaut
Hitungan jam ku
bergelut
Puaskan birahi ku akut
Hati dan pikiran ku
turut
Sangsikan hina ku
kemelut
Tunduk hati pikirku
maksiat
Coba lari neraka ku
renggut
Dalam sepi malam ku ingat
Pesan ibu ayah ku
hianat
Kembali ke jalan ku
berangkat
sepuluh5
27ke21011
Melambung kau buai
diri ini
Dalam manis kau baluri
nurani
Ringankan beban
gelayuti hati
Semua keindahan hanya
ilusi
Yang kau kemas dalam
fantasi
Kau yang hina dari
gelap sunyi
Pembawa nikmat untuk
ingkari
Pemakan empedu racun
sendiri
Berbalut bunga berbau
tahi
sepuluh4
271011
Simpang tiga gang
tikus
Depan warung belakang
kakus
Beribu warna saling
berpapas
Hanya hitam biru
selalu beringas
Sendiri berkawan naas
Berdiri jauh luar
kelas
Jauh dari orang
bernasib teratas
Menantang menghela
napas
Hirup nikmat bersama
bebas
Tanpa aturan mengekang
lepas
Sekali bertukar
menjadi alas
Dengan kami orang
tertindas
sepuluh3
251011
Dalam balutan lampu
jalan
Dengan raung mesin
kesakitan
Kupandang tiap wajah
manis menakutkan
Seorang wanita
terbuang pinggiran
Senyum rekah
tersungging perlahan
Matanya kian redup
memandang lamun
Hanya coba
tutupisendiri kesakitan
Hidup dalam sunyi
dekap kegelapan
Tanpa mau membagi
kisah yang lain
Kian merintih mesin
perlahan
Sedih hati turuti
pikiran
Saksikan keras
perbedaan
sepuluh2
161011
Sejuk raga siraman
rembulan
Diatas bangku depan
balkon kontrakan
Sendiri lalu nikmati
malam hingar
Hingga sumbang koar
sekitar terdengar
Renung ratapi keadaan
Dalam hidup lalui
jalan
Dengan ranjau manis
berserakan
Larutkan hati luluh
dimabukkan
sepuluh1
151011
Mantra menjelma rasa
Buat diri angan fana
Terasa dingin sekitar
raga
Hanyut lebur bersama
asa
Mengalir deras darah
remaja
Membelai lembut kisah
asmara
Sisakan sesal tak
berara
Pilihan akhir bawa
petaka
Bujang bajingan sesat
Ingin rasa hapus ikrar
bawa petaka
Untuk selamanya
Untuk selamanya
Hingga jumpa baka
sepuluh
181011
Merdeka?
Benar seperti ini?
Cucuran darah lalu
Koyakan dihempas
peluru
Korban korban muda
Tekad bulat jauh
keluarga
Tak berarti kini di
mata muda
Semua tinggal
pengorbanan belaka
Digantikan hura pemuda
Menangis. . .
Menangis. . .
Darah mereka di alam
baka
Binatang kalian!
Binatang diriku!
Binatang semua!
Yang telah melupa
Jangan buat mereka
tersiksa
Tersiksa kali keduanya
Buat berarti mati
mereka
Sadar segera jiwa muda
sembilan
220911
Sekeras keras batu,
tak lebih dari hidup diambang curam
Segelap gelap malam,
tak lebih dari kosong hati sendiri
Sederas deras ombak,
tak lebih dari jalan harinya
Setegar tegar karang,
tak lebih dari niatnya tuk hidup
Itu pelajaran,
pelajaran hidup si tersisih
Dari riuh pergulatan
hidup
Langganan:
Komentar (Atom)